Lorong I

“Lorong”
Alf Sukatmo. 2017

Di lorong,
         para pejalan berhenti
            memilih menunggu
               atau berlalu

Yang berpelukan mungkin saja akan segera menjadi masa lalu
dan tertidur adalah cara terbaik untuk pura-pura lupa
sedang, pura-pura tidur hanyalah alasan untuk yang tak mau tahu
Padahal esok tak akan pernah baik-baik saja dengan sendirinya

31 Desember, 2017

 
 



 
 

Selamat Tahun Baru 2018.
May God bless us all with peace, health, prosperity, and happiness.

 
 



Advertisements

Kota Tua

Setelah malam lelah membungkuk
Pagi membuka kerut wajah keriput
Kota berdandan
Orang bergegas
Wangi parfum berganti bau keringat
Embun pergi
Udara busuk
Jarum jam berputar cepat
Bayangan-bayangan bergerak
Aspal terbakar

Aku di tengah pusaran manusia pemuja
apa saja
Berdiri diam
Tak ada yang kukejar
Tempatku pulang sudah ditentukan

Matahari ke barat
Bayang-bayang memanjang
Orang-orang berdandan
Mandi dan wangi
Kota bergegas memainkan sihir cahaya
Satu babak dimulai lagi tanpa jeda

Gaun Pengantin

Gaun putih terserak begitu saja di atas ranjang
Terburu-buru ia kulepas dari tubuhmu
         Istriku,
 
Kita adalah pecinta yang tak pernah mahir bercinta
Malam larut kucumbu gugup
Tubuh pualam merekah
Sejeli bintang kutatap
Ada oaseku di dalam matamu
Ada ruhku sembunyi di situ
Juga sedikit kemurnian yang kupunya
Bila memang masih, berarti hanya itu yang tersisa
Nanti biar kukerat dari hatiku yang berkarat

Selimut dan seprei yang kusut
Seperti kita yang bercinta terburu-buru
         Istriku,
 
Betapa kita mendengar tentang cinta tapi tak diajar mencinta
Hingga kita belajar pada dengus napas memburu
Terengah seolah kehabisan waktu
Dunia
Betapa ia tak pernah senyap menyapa kita
Aku ragu
Bila kelak ada jiwa-jiwa yang menyambung nyawa kita
Bisakah kita mengajarkan cinta
Yang tak pernah kita sadari keberadaannya

Jelita seputih pualam berambut sehitam malam
Selimut membungkus tubuhnya yang telanjang
         Istriku,
 
Saat matahari masuk dari celah kelambu
Sudikah kau berbaring sejenak?
Biar bisa kulihat lagi tilas perjalanan
Berapa ribu kecup bibirku di tubuhmu
Berapa ribu jejak airmata beradu dengan senyum bahagia
Dan terang bintang di bola matamu yang masih kusimpan selalu
Juga biar kuraba lagi jiwaku di rahimmu
Agar aku ingat ternyata waktu tak pernah memburu
Bahwa mencinta itu terajar sewajar embun yang datang dan pergi


25 September 2015

Lorong III

“Lorong III”
Alf Sukatmo. 2017

Geliat besi-besi tua
Asap-asap hitam mengepul ke udara
Matahari terbit malu-malu
Malam baru saja berlalu

         Rindu kami
         Pada perut kenyang
         Istirahat tenang
         Tidur tak kurang

         Rindu kami
         Menunggu petang memeluk
         Berbaring di kasur yang empuk
         Menyambut datangnya kantuk

Mesin-mesin menderu
Suara garang menyalak
Orang berlarian
Matahari sembunyi di balik awan kelabu

Ragu-ragu

6 Januari, 2018

Lorong II

“Lorong II”
Alf Sukatmo. 2017

Suara-suara terbangun
         orang-orang menggambar harapan dengan langkah bergegas
         bayang-bayang tak rapuh walau terinjak

Selepas kesunyian
         kita dapat temukan apa saja di lorong ini
         beberapa mengintip sebuah etalase
         bukan untuk berkaca namun menebalkan khayal
         dan di tengah lorong dekat kerumunan
         aku mendengar suara penjaja yang penuh amarah
         geram menawarkan kapling-kapling surga
         hingga bagaimana cara mencaci maki
         sungguh, kita bisa dapati apa saja di sini
         bahkan kepingan bening dari hati
         bila saja mau teliti mencari

31 Desember, 2017

Tentang Laki-laki Yang Menguap Ke Udara

Tentang Laki-laki Yang Menguap Ke Udara

Di suatu tempat tertulis puisi;
      tentang seorang laki-laki yang ingin menguap menjadi udara
      bukan pada lembar halaman yang biasa kau baca
      atau pada foto-foto dengan senyum mengembang
      juga bukan pada kegetiran sesaat ketika ia bernostalgia

         Hilang dan kematian tidak pernah perlu alasan
         atau penjelasan
         Begitupun ia

            Hanya ingin dilupakan saja

Anggara kasih, Desember 2017

Dialog XVI

Kita datang berbeda-beda, sebagai satu saudara
Sampai kita diberi kotak-kotak berisi kebenaran
Memegangnya dengan keyakinan-keyakinan
yang mencacah
Lalu kita berpisah sebagai daging yang berdarah-darah

Nampaknya lupa
         bahwa sebelum mengeja kata surga
         kita harus menjadi manusia

Desember, 2017

Yang Akan Pasang

Ia menciumku kemarin siang

      sedang aku belajar diam
            saat terang nyata
            pada ombak tenang di rambutnya
            pada belah busung dadanya
            yang lalu mengeras seperti bongkahan batu purba
            ketika senja melahirkan umpama
            terbit jutaan kedip genit titik cahaya
            di kota tak jauh di sana
            membungkam canda semua bintang di angkasa
      rumah-rumah menjadi kubus es raksasa
      dan kurendam hatiku di dalamnya

Ia berkata,
rindu akan pasang

Tidur, tidurlah
agar tak datang

November, 2017