Agni

"Agni" (Fire) Acrylic on board 65 cm x 78 cm ©Alf Sukatmo. 2017

“Agni” (Fire)
Acrylic on board
65 cm x 78 cm
©Alf Sukatmo. 2017

When a dance starts the history
Men are falling in desperation
 
-ASu

05022017


Photo reference used with permission from the photographer
Photo reference credit: @whdbrn

Kota Tua

Setelah malam lelah membungkuk
Pagi membuka kerut wajah keriput
Kota berdandan
Orang bergegas
Wangi parfum berganti bau keringat
Embun pergi
Udara busuk
Jarum jam berputar cepat
Bayangan-bayangan bergerak
Aspal terbakar

Aku di tengah pusaran manusia pemuja
apa saja
Berdiri diam
Tak ada yang kukejar
Tempatku pulang sudah ditentukan

Matahari ke barat
Bayang-bayang memanjang
Orang-orang berdandan
Mandi dan wangi
Kota bergegas memainkan sihir cahaya
Satu babak dimulai lagi tanpa jeda

Gaun Pengantin

Gaun putih terserak begitu saja di atas ranjang
Terburu-buru ia kulepas dari tubuhmu
         Istriku,
 
Kita adalah pecinta yang tak pernah mahir bercinta
Malam larut kucumbu gugup
Tubuh pualam merekah
Sejeli bintang kutatap
Ada oaseku di dalam matamu
Ada ruhku sembunyi di situ
Juga sedikit kemurnian yang kupunya
Bila memang masih, berarti hanya itu yang tersisa
Nanti biar kukerat dari hatiku yang berkarat

Selimut dan seprei yang kusut
Seperti kita yang bercinta terburu-buru
         Istriku,
 
Betapa kita mendengar tentang cinta tapi tak diajar mencinta
Hingga kita belajar pada dengus napas memburu
Terengah seolah kehabisan waktu
Dunia
Betapa ia tak pernah senyap menyapa kita
Aku ragu
Bila kelak ada jiwa-jiwa yang menyambung nyawa kita
Bisakah kita mengajarkan cinta
Yang tak pernah kita sadari keberadaannya

Jelita seputih pualam berambut sehitam malam
Selimut membungkus tubuhnya yang telanjang
         Istriku,
 
Saat matahari masuk dari celah kelambu
Sudikah kau berbaring sejenak?
Biar bisa kulihat lagi tilas perjalanan
Berapa ribu kecup bibirku di tubuhmu
Berapa ribu jejak airmata beradu dengan senyum bahagia
Dan terang bintang di bola matamu yang masih kusimpan selalu
Juga biar kuraba lagi jiwaku di rahimmu
Agar aku ingat ternyata waktu tak pernah memburu
Bahwa mencinta itu terajar sewajar embun yang datang dan pergi


25 September 2015

Bak

Mungkin kau hendak meminjamiku
Sebagian dari dirimu
Menjadi surgaku

Mungkin kau hendak membagiku
Setetes keringat yang menekuk punggungmu
Agar aku tahu sedikit nerakamu

Mungkin kau hendak memberiku
Selembar rambut putihmu
Sebagai apapun untuk menetak rindu

(03022017)

Senyum

Beri aku sesuatu yang singkat

Sesingkat yang bisa kurindu
Secepat yang bisa kau beri

Seulas senyum
Mungkin, seperti “Smile” dalam hentak bass Yoshihiro Naruse
Atau tangis bila kau bisa

Cepat
Tanpa perlu sebab atau alasan
Sebelum dinding-dinding yang terlalu lama kosong
Mengerang dibawa ajal


010217

Fragmen XIX

“Aku mencintaimu, sekali seumur hidupku
               seperti saat fajar menunggu senja
               saat daun merindukan embun
               saat tanah rekah mendamba hujan”

Seorang laki-laki melolong
Di ujung gang
Menjelang petang

“Aku mencintainya, sekali seumur hidupku
               seperti saat pagi berkabut
               saat kusetubuhi dingin
               saat kucumbu beku”

Seorang laki-laki bernyanyi
Serenade parau
Di bawah bulan sabit

“Aku mencinta dan mencinta, sekali seumur hidupku
               seperti saat aku memohon esok
               saat esok menunggu nanti
               saat nanti menjadi kelak”

Seorang laki-laki bersenandung
Cinta setelapak tangan
Jatuh sebelum subuh


Desember 2016