Senyum

Beri aku sesuatu yang singkat

Sesingkat yang bisa kurindu
Secepat yang bisa kau beri

Seulas senyum
Mungkin, seperti “Smile” dalam hentak bass Yoshihiro Naruse
Atau tangis bila kau bisa

Cepat
Tanpa perlu sebab atau alasan
Sebelum dinding-dinding yang terlalu lama kosong
Mengerang dibawa ajal


010217

Buat Selembar Kertas

: dan apa saja yang tercecer di dalamnya

Kubaca
Nanti
Saat diam
Sehingga tak ada lagi yang mati
Setiap kali aku bertanya pada sela pahamu
         “Apakah kau bahagia?”
Karena kau dan aku sama-sama tahu
Bahwa kata-kata bisa seperti peluru
Seketika ia menukar cinta menjadi murka
Dan birahi menjadi benci

Nanti
Kubaca
Saat tenang
Selembar catatan tak bersampul
Kusut karena aku terlalu sering membungkuk
Merunduk-runduk
Bertabik pada manusia-manusia berhati batu
Lalu bertanya kepadamu
         “Sudahkah kau bahagia?”
Sebelum memunguti tetes-tetes air untuk sekedar kupercik ke wajah
Agar aku tahu apakah masih terasa segar mereka
Karena kau dan aku sama-sama tahu
Bahwa wajah kita bisa setebal kulit kayu

Kelak
Kubaca
Saat luang
Selembar catatan tak bersampul
Namun belum nampak apapun tertulis di situ
Bisa saja akan terbaca kata cinta
Atau justru tak terbaca apa-apa
Selembar ia
Yang terselip di antara tulang rusukku
Tepat di tempat dulu ia dipatahkan
Lalu konon diciptakanlah kau darinya
Tapi tenanglah
Aku tak akan bertanya
         “Pernahkah kau bahagia?”

(Pangkalpinang, November 2016)

Membunuh Sepi

Pada ujung doa kuselipkan sebilah belati
      Aku hendak membunuh sepi
      Yang menjadi rentang
      Sehingga aku dan kau lumat digulung rindu
      Tiap pagi
      Meninggalkan wajah kusut seperti selimut
      Kuyu tak puas bercumbu
      Seperti celana yang dipakai tergesa
      Mengejar pulang
Continue reading