Seribu Lilin Dan Kepala Yang Meleleh

“Seribu Lilin Dan Kepala Yang Meleleh”
Vector artwork
Alf Sukatmo 2017

Seribu lilin
            dan empatratus empatpuluh sisanya
            habis kubakar saat kau keluhkan gelap
            demi nyanyian rindumu
            sambil mendustakan terang
            hingga habis lelehnya
            dan tak ku ingat lagi seperti apa wajahmu

Wahai, kau sungguh tak tahu arti selesai

            Rindu?
            Cih!

Rindu
 

Oktober, 2017

Advertisements

Imajinasi Terindah Dan Sebutir Peluru

“Imajinasi Terindah Dan Sebutir Peluru”
Digital art, vector artwork
Alf Sukatmo. 2017

Tepat duabelas saat malam mengetuk jendela
         Dalam sebuah kamar di rumah sakit
         Tisu demi tisu gentayangan
         Seorang lelaki terbatuk
         Gemanya merambat
         Menyusuri lorong-lorong
         Sebelum melesat keluar seperti hantu
         Melewati para penunggu yang terkantuk
         Secepat laju peluru ditembakkan masa lalu
         
Sementara itu
         Di atas sebuah meja dalam satu rumah
         Warna-warna dari imajinasi terindah
         Bergumam muram dalam sorot lampu temaram
                  “Rasanya, seperti baru kemarin ia menjadikanku”
 

Tangerang, September 2017

Secangkir Kopi Dengan Bekas Lipstik Di Bibirnya

“Secangkir Kopi Dengan Bekas Lipstik Di Bibirnya”
Digital art, vector artwork
Alf Sukatmo. 2017

Kita pernah ada di satu masa
Saat duduk-duduk di bangku sebuah taman adalah kemewahan
Berbekal sebotol air menunggu senja berdua saja
Tentu kita tahu
Orang-orang akan lalu lalang
Sekedar mencuri dengar kenapa kita bisa begitu bahagia
Atau bahkan mentertawakan

Lalu bangku-bangku itu tak lagi ada
Karena kita melabuhkan senja pada temaram lampu kafe
Dengan wifi gratis untuk melihatnya tanpa memangkas kuota
Orang-orang tak lagi lalu lalang
Mereka duduk diam dengan secangkir kopi atau apapun yang terpesan
Walau telah habis berjam-jam lalu

Aku mendengar bunyi samar
Taptaptap
Orang-orang nyengir
Taptaptap
Mereka tertawa
Taptaptap
Beberapa merah padam
Taptaptap
Geram
Taptaptap
Mendengus seperti segerombolan kerbau
Taptaptap
Seperti kita yang selalu bertaptaptap tanpa perlu sering bertatap muka
Kehilangan selera untuk saling melihat
Sambil menertawai diri sendiri

Aku tak ingat lagi sudah berapa lama cangkir kopiku kosong
Dan entah sejak kapan kau meninggalkan cangkir dengan bekas lipstikmu di bibirnya
Terminum setengah saja di depanku

Bukankah mengirimkan pesan “selamat malam” lebih mudah dari mengucapkan
Taptaptaptaptaptaptap
Taptaptap
Tap

(Taman Nobar Tangerang, September 2017)

Dialog I

“Dialog I”


Kerinduan bisa begitu sederhana
Ia ada dalam hembus angin pagi
Datang bersama embun dini hari
Sambil menyelipkan senyum di bibir yang tertidur

Mungkin, aku pun ada di situ

Agni

"Agni" (Fire) Acrylic on board 65 cm x 78 cm ©Alf Sukatmo. 2017

“Agni” (Fire)
Acrylic on board
65 cm x 78 cm
©Alf Sukatmo. 2017

When a dance starts the history
Men are falling in desperation
 
-ASu

05022017


Photo reference used with permission from the photographer
Photo reference credit: @whdbrn