Her Sea

Her Sea
Continue reading

Advertisements

Untitled 91 (Into you)

"Untitled 91" Alf Sukatmo. 2015. Pencil on paper.

“Untitled 91”
Alf Sukatmo. 2015.
Pencil on paper.

Into
         rage
         desire
         pleasure
         lust
         obsession
         possesion
         drunk
         love
         madly
         maybe
You

Sepotong cinta dan sekarung ironi

image

Luv..,luv.. by Alf Sukatmo. Vector artwork.

Cinta itu kurang ajar
Aku menginginkanmu itu
Seperti orang kelaparan yang melihat sepiring nasi
Seperti lapar yang terpuaskan hanya untuk kelaparan sekali.
Seperti remaja yang ingin tahu rasanya
Mengharubiru
Dan bangun keesokan hari dengan perasaan letih
Kemudian kita
bersama-sama terbahak dalam sepotong cinta
dan sekarung ironi
Terjebak; sekali lagi

Tangerang Selatan, 23/03/2014

Kisah Sebotol Heineken

Kau dan aku
Tidur di atas selimut
Berpelukan telanjang
tanpa kasur
tanpa ranjang
Dalam kamar yang dingin
Dalam diam
Seperti tersiksa kebisuan
Kau pecahkan dengan bisikmu
     Aku ingin dua atau tiga anak untuk melengkapi kita
     Biar cinta juga yang menghangatkan kita
     Kamar ini makin dingin
     Karena kita tak mampu beli kaca jendela
     Hanya menggantinya dengan kassa
     Agar nyamuk-nyamuk tak seliar kita bercinta

Ya. Aku ingat

Ahhh, mungkin sebotol Heineken akan cukup
bisa membuatku lupa
Tentang aku dan kamu dan sejarah yang getir
Mungkin
satu pak rokok akan bisa menggambarkan lagi
tentang asa dan janji dalam imaji gumpalan asapnya
Atau bahkan
mungkin akan sirna karena asap tetaplah asap
Seperti aku dan kamu
Tidur bersama dalam satu selimut
Terpisah jeda bukan lagi satu
dalam kamar mewah
dengan jendela berkaca

200114

Sayap-Sayap Icarus

It’s my old short story, I love this story very much, so i am going to tell this story once more.

I Saw An Angel Falling

Lihatlah ke batu karang itu.

Lihatlah pada lelaki yang yang termenung, diam dengan tatapan mata kosong memandang jauh ke arah horizon. Begitu beku, kulitnya berkilau disinari cahaya bulan, detil setiap uratnya nampak seperti pahatan pada patung pualam, lengkap dengan sepasang luka di pundaknya. Angin yang dingin tidak membuatnya beranjak pergi, dalam diam hembusnya menyelimuti tubuh yang berdiri tegak kukuh seperti karang, sehingga ombak dibawah sana menghiburnya dengan nyanyian sedih, yang sesekali bisa membuat lelaki itu menggumam dan menghela napas.

Gumaman yang keluar dari dari mulutnya dibawa oleh angin, jauh sampai ke seberang lautan, mengembara dan mewartakannya jauh sampai ke puncak gunung-gunung, turun ke lembah-lembah.  Menjelahahi setiap jalan di kota, masuk ke dalam gang-gang, ke rumah-rumah. Seperti epidemi, masuk ke alam tidur merebut mimpi-mimpi indah dan menjadikannya mimpi tentang kesedihan, sehingga mereka akan menangis dalam tidur tanpa tahu apa yang mereka sedihkan. Angin akan menyebarkannya, sehingga sebuah kota akan dipenuhi udara kesedihan. Orang-orang yang masih belum terlelap, mereka yang masih di jalanan, mereka yang tidak mendengar bisikan anginpun akan meneteskan air mata, kemudian mengusap-usap mata dan bertanya dengan kebingungan.

Para suami melihat istri-istri mereka menangis, sehingga mereka akan mengira bahwa istri-istri mereka menyembunyikan sebuah cerita, sebuah rahasia. Demikian juga dengan para wanita yang menangis, mereka akan melihat suami-suami mereka diam-diam menghapus air mata yang keluar. Mereka pun mengira hal yang sama. Tanpa rasa marah, tanpa curiga, mereka alan segera berpelukan dan tenggelam dalam kesedihan.

Lelaki itu akan tetap berdiri mematung di atas batu karang. Satu per satu butiran air matanya akan jatuh ke laut, menjadi sisik-sisik perak yang menari dipermainkan ombak. Sisik-sisik perak itu berpendar, seperti ribuan plankton, menari timbul tenggelam. Kemudian saat pagi tiba, sisik-sisik itu akan menguap bersama air laut. Menjadi awan, menjadi mega, dan jatuh lagi ke bumi sebagai hujan. Sehingga rumput-rumput akan mendengar cerita tentangnya, membisikkannya pada rumpun-rumpun bambu, yang segera akan menyanyikannya saat angin kembali bertiup.

Arunia berhenti bercerita untuk segelas es jeruk. Meneguknya dengan segera, menandaskan habis sampai ke  dasar gelas. Dia menghela napas, dan diam.

“Lalu..?” tanyaku, “Siapa sebetulnya dia itu?”. Arunia seperti tidak memperhatikan pertanyaanku. “Hei..hei..hei..” Aku mengoyang pundaknya, sampai dia menatapku, dengan matanya yang sendu, yang, hmm, entah kenapa aku selalu suka mata itu.

“Lalu?”, ulangku.

Arunia tertawa, “Oh ya.., cerita itu..”

Aku juga suka tertawanya, karena kemudian aku selalu memeluknya. Seperti sekarang ini.

“Kau mau dengar ceritaku tidak?” katanya buru-buru, mencegah bibirku mencium bibirnya. Aku mengambil selimut yang aku tiduri, dan menutupkan ke kepalanya.

Kami, warga kota ini memanggilnya Icarus, karena sepasang luka di pundaknya, kami terus memanggilnya dengan nama itu, sampai kami tidak tahu lagi siapa nama sesungguhnya.

Lelaki itu tidak setiap malam berdiri di atas batu karang, hanya malam-malam tertentu.  Pada hari selain malam tersebut, dia adalah manusia biasa. Memang ada yang mengatakan bahwa lelaki itu setengah peri. Entahlah, menurutku dia hanya lelaki biasa, kata Arunia. Lelaki yang mempunyai kehidupan. Dia punya teman, bahkan, dia berteman dengan siapa saja. Orang yang ramah, hanya saja dia memang pendiam, tidak terlalu banyak bicara tapi tidak ada yang mengatakan lelaki itu sombong. Dia juga bisa mencintai seseorang, bisa tersakiti, dan kau tahu.., dia bahkan berkeluarga. Setelah semalaman berdiri di atas batu karang, dia akan selalu kembali ke perempuan yang mencintai dirinya.

Lelaki itu tidak pernah sepenuh hati mencintai perempuan itu, juga tidak pernah meninggalkannya. Dia hanya mengikuti garis hidup yang telah diberikan untuknya, menerimanya dengan pasrah, menjalaninya hari demi hari selama bertahun-tahun.  Kepada istrinya itu dia selalu bercerita tentang apa saja, berbagi keluh kesah, berbagi bahagia, hanya duka yang dia simpan sendiri. Mereka dikaruniai seorang anak perempuan, dengan mata berbinar seperti bintang di malam hari, dengan rambut hitam sepekat malam, hanya kepadanya lelaki itu mencurahkan semua kasih sayang.

“Bagaimana mungkin ada hubungan seperti itu..”

Arunia memukul dadaku dengan bantal yang dipeluknya, menutupi dadanya yang telanjang. “Jangan memotong ceritaku!” ujarnya kesal. “Tahukah kau? Ada banyak hubungan seperti itu, aku tidak bilang tanpa cinta, hanya setengah mencintai.”

“Hmm, terserah kau sajalah.., aku mau dengar ceritamu.”

Ada banyak sekali hubungan seperti itu, banyak sekali orang-orang yang menikah dengan setengah cinta di hati mereka. Bahkan ada yang tanpa cinta sama sekali. Ada banyak penyebab dan alasan mereka menjalani suatu ikatan. Lelaki tersebut salah satu dari ribuan, bahkan jutaan manusia di muka bumi ini, yang menjalani hubungan seperti itu.

Kau juga pasti akan bertanya-tanya bagaimana dengan istrinya. Apakah perempuan itu juga bisa menerima keadaan seperti itu?

Arunia diam. Berpikir keras untuk menemukan kata-kata yang tepat. “Gerah betul..,” katanya. Seperti biasa, seperti Arunia yang aku kenal, yang selalu ingin mengalihkan pembicaraan bila berhubungan dengan perasaannya sendiri.

Kali ini aku tidak merespon ucapannya, tidak juga mengalihkan pembicaraan. Aku diam. Menunggu. Caraku melihat membuatnya makin gugup.

Ya, istri lelaki itu dari awal sudah tahu bahwa cinta suaminya tidak akan pernah utuh sejak mereka terikat pernikahan. Kenapa dia bertahan? Mungkin karena perempuan itu mencintai suaminya sepenuh hati. Mungkin juga karena perpisahan itu tabu baginya. Menurutku, cinta, bagi kami perempuan adalah sesuatu yang mulia. Aku tidak akan pernah tahu, dan tidak ingin berada dalam posisi perempuan itu. Walaupun bagi istri Icarus hal tersebut adalah pengabdian hidupnya, hidup bertahan dalam kondisi seperti itu tidaklah mudah. Aku, kami, tidak pernah tahu siapa cinta sejati lelaki itu. Setahu kami, dia tidak pernah mengatakannya pada siapapun. Mungkin dia berhati lembut, terlalu takut untuk menyakiti hati istrinya.

Setahu kami, pada malam-malam tertentu dia hanya akan pergi ke atas tebing karang, dan berdiri di atas batu yang sama selama bertahun-tahun, jauh sebelum aku lahir.  Aku hanya pernah melihatnya sekali dalam hidupku, saat ibuku diam-diam mengajakku pergi ke atas tebing karang itu. Kami bersembunyi tidak jauh dari tempatnya berdiri. Kalau saja lelaki itu tidak tenggelam dalam kesedihannya, tentu dia bisa melihat kami karena sinar bulan purnama. Ya, aku melihatnya, untuk kali pertama dalam hidupku aku melihat betapa kesedihan bisa begitu indah. Begitu tulus, begitu pasrah menerima. Aku mendengar ombak lautan di bawah sana mulai bernyanyi, aku masih tertegun memandangi sosok lelaki itu, sampai aku mendengar gumamannya. Air mataku mulai menetes, walaupun aku berkali-kali mengusapnya sampai lengan bajuku basah. Gumaman itu hanya samar-samar kudengar, namun aku mengerti, hatiku mendengar.

Dia menggumamkan sebuah cerita, tentang cinta sesungguhnya, cintanya, yang tak teraih, tak terengkuh. Dia bercerita tentang keabadian sebuah perasaan, yang akan terus hidup walaupun tubuhnya nanti pasti mati. Dia menangis karena kesetiaan, meminta sepasang sayap agar bisa terbang menemui kekasihnya, karena dia tahu di sana, hanya di sana dia akan merasa bahagia.

Aku memandang ibuku lewat air mata yang tak mau berhenti. Aku menarik-narik bajunya. Ibuku mematung dengan air mata menetes lebih deras dari air mataku. Angin menangis, pohon-pohon di belakang kami menangis. Dan sayup-sayup aku mendengar nyanyian, bukan nyanyian ombak di bawah sana. Lebih jauh, lebih meratap. Lebih lirih dibawa angin. Gumamannya terhenti, air matanya jatuh satu per satu berkilauan seperti sisik-sisik perak. Begitu terang, terang sampai membuatku tidak bisa melihat apa-apa lagi selain kilaunya. Aku meraih lengan baju ibuku, tapi hanya angin yang tertangkap. Mataku terpaku pada kilau sisik-sisk itu sampai aku enggan mealingkan kepala, enggan melihat kemana ibuku pergi.

Kemudian gelap.

Sisik-sisik itu menghilang, lelaki itu juga menghilang. Hanya ada aku, berlutut sendirian di balik karang di bawah sinar bulan purnama. Aku sudah akan menangis ketakutan ketika kudengar langkah kaki mendekat. Langkah kaki ibuku. Aku berdiri, berlari memeluknya. Dengan air mata yang masih berjatuhan membasahi rambutku, dia berbisik, mari kita pulang, Icarus sudah pergi, dia terbang dan tidak akan kembali. Tuhan telah memberinya sepasang sayap untuk terbang dan pulang.

Sejak saat itu kami tidak pernah melihat Icarus lagi. Orang-orang di kota mengatakan dia sudah mati, terjun dari puncak tebing karang, walaupun tak ada seorangpun yang pernah menemukan tubuhnya. Ada yang bilang ia kembali ke dunia peri, ada yang bilang melihatnya berjalan kaki meninggalkan kota kami. Aku tak pernah tahu pasti, tapi aku percaya apa yang dikatakan ibuku, bahwa Icarus telah diberi sepasang sayap dan dia terbang, pulang ke dekapan kekasihnya.

Arunia membalikkan badannya, “Aku ngantuk. aku ingin tidur”

Dia menggumam, “Aku percaya ibuku, aku percaya. Icarus terbang dan tak akan kembali. Saat warga kota kehilangan Icarus, saat itulah aku kehilangan ayahku.”

Dalam temaram lampu kamar, aku melihat sepasang luka di pungak Arunia. Seperti luka tercabutnya sepasang sayap.

Serpong, 29 Juni 2010.