Gang Pertama Dari Sebuah Simpang

Bila kau melihat sebuah rumah bercat hijau,
di atas tanah tertinggi dalam gang pertama dari sebuah simpang
yang lebar jalannya mengikuti seberapa luas hatimu

Mampirlah

Jangan sungkan pada belukar di halamannya
Atau alang-alang setinggi dada
Pun semak duri yang mungkin akan menggores betis
dan mengoyak sepatu termahalmu
Continue reading

Advertisements

Yang Akan Pasang

Ia menciumku kemarin siang

      sedang aku belajar diam
            saat terang nyata
            pada ombak tenang di rambutnya
            pada belah busung dadanya
            yang lalu mengeras seperti bongkahan batu purba
            ketika senja melahirkan umpama
            terbit jutaan kedip genit titik cahaya
            di kota tak jauh di sana
            membungkam canda semua bintang di angkasa
      rumah-rumah menjadi kubus es raksasa
      dan kurendam hatiku di dalamnya

Ia berkata,
rindu akan pasang

Tidur, tidurlah
agar tak datang

November, 2017

Core

“Core”
Mixed media on paper
Alf Sukatmo. 2017

                  What always hidden
                  that one’s must seek
                  to find peace
                  to be born once more

Oktober, 2017

Cordela

                     suatu siang dalam pembicaraan
                     suara perempuan
                     yang tak sengaja kucuri dengar
                     tepat di sebuah lorong merapat ke dinding
                     jauh dari sudut agak tersembunyi di balik pintu
                     susunan kata-kata dipersiapkan
                     sebuah kalimat berayun
                     sebatang tiang gantungan telah ia hadiahkan
                     lewat sebuah telepon genggam

November, 2017

Surat Cinta Buat Puisi

Pangkalpinang, 28 Oktober 2017

Puisi, eh?
Apa sih yang pertama kali terpikir ketika mendengar tentang puisi?

Pertama kali saya kenal “puisi” adalah waktu pembacaan karya penyair-penyair yang saya lupa siapa saja namanya di halaman Balai Pemuda, Surabaya. Itu juga masih kelas enam SD (Okeee..okee..puluhan tahun lalu). Saya tidak ingat puisi siapa saja, apa judulnya, ramai atau tidak acara itu, keren atau tidak acara itu. Yang saya ingat hanya cara mereka membawakan, yang bahkan di usia yang sekecil itu walaupun tidak terlalu memperhatikan ke arah panggung, suara-suara penyair dan rasa yang tersampaikan masih saya ingat sampai sekarang.

Itulah saat pertama saya jatuh cinta pada puisi, dialah pacar saya pertama kali.
Continue reading