Wang 116

“All the ways that led me home”
Acrylic on notebook paper
Alf Sukatmo. 2018


Continue reading

Advertisements

Kota Merah

Tiba-tiba saja dia bertanya
         Apa kabar hujan hari ini?

Dia tahu
         seperti mata air
         air mata pun telah kering
         sejak hujan berbulan-bulan lalu tidak turun
         dan alang-alang yang marah
         hingga setitik bara saja berkobarlah semua
         seperti hati yang menyimpan api
         namun pantang menyebutnya benci

Ya
Bagaimana tentang hujan hari ini?

September, 2018.

“Red City”
Acrylic on notebook paper
Alf Sukatmo. 2018

Lelaki Sore

: di lengkung alisnya kutemukan pelangi

Jalanan macet di depan sebuah pasar
Parkir tak teratur
Suara peluit bersautan dengan klakson yang menjerit
Antrian panjang menjelang lebaran
Daging terbeli dengan berhutang

Matahari terik
Awan pun jauh
Angin seperti mimpi basah di siang bolong
Orang-orang miskin berangan-angan tentang hujan
Orang-orang kaya membeli mimpi mereka

Kulit legam timbul tenggelam di sela-sela barisan mobil
Berlari-lari mengejar yang berhenti
Menata mereka seperti menyusun kotak kardus
Malam takbiran menjelang
Jalan tak juga lengang saat dia pulang

Bola mata telah memerah saga
Keriput wajahnya seperti buku cerita
Anak gadisnya telah menunggu
Seulas senyum dibawanya ke rumah
Mengganti sekantong daging yang urung terbeli

Agustus, 2018

“On watch”
Acrylic on notebook paper
Alf Sukatmo. 2018

Lorong III

“Lorong III”
Alf Sukatmo. 2017

Geliat besi-besi tua
Asap-asap hitam mengepul ke udara
Matahari terbit malu-malu
Malam baru saja berlalu

         Rindu kami
         Pada perut kenyang
         Istirahat tenang
         Tidur tak kurang

         Rindu kami
         Menunggu petang memeluk
         Berbaring di kasur yang empuk
         Menyambut datangnya kantuk

Mesin-mesin menderu
Suara garang menyalak
Orang berlarian
Matahari sembunyi di balik awan kelabu

Ragu-ragu

6 Januari, 2018

Lorong II

“Lorong II”
Alf Sukatmo. 2017

Suara-suara terbangun
         orang-orang menggambar harapan dengan langkah bergegas
         bayang-bayang tak rapuh walau terinjak

Selepas kesunyian
         kita dapat temukan apa saja di lorong ini
         beberapa mengintip sebuah etalase
         bukan untuk berkaca namun menebalkan khayal
         dan di tengah lorong dekat kerumunan
         aku mendengar suara penjaja yang penuh amarah
         geram menawarkan kapling-kapling surga
         hingga bagaimana cara mencaci maki
         sungguh, kita bisa dapati apa saja di sini
         bahkan kepingan bening dari hati
         bila saja mau teliti mencari

31 Desember, 2017

Lorong I

“Lorong”
Alf Sukatmo. 2017

Di lorong,
         para pejalan berhenti
            memilih menunggu
               atau berlalu

Yang berpelukan mungkin saja akan segera menjadi masa lalu
dan tertidur adalah cara terbaik untuk pura-pura lupa
sedang, pura-pura tidur hanyalah alasan untuk yang tak mau tahu
Padahal esok tak akan pernah baik-baik saja dengan sendirinya

31 Desember, 2017

 
 



 
 

Selamat Tahun Baru 2018.
May God bless us all with peace, health, prosperity, and happiness.

 
 



Tentang Laki-laki Yang Menguap Ke Udara

Tentang Laki-laki Yang Menguap Ke Udara

Di suatu tempat tertulis puisi;
      tentang seorang laki-laki yang ingin menguap menjadi udara
      bukan pada lembar halaman yang biasa kau baca
      atau pada foto-foto dengan senyum mengembang
      juga bukan pada kegetiran sesaat ketika ia bernostalgia

         Hilang dan kematian tidak pernah perlu alasan
         atau penjelasan
         Begitupun ia

            Hanya ingin dilupakan saja

Anggara kasih, Desember 2017

Dialog XVI

Kita datang berbeda-beda, sebagai satu saudara
Sampai kita diberi kotak-kotak berisi kebenaran
Memegangnya dengan keyakinan-keyakinan
yang mencacah
Lalu kita berpisah sebagai daging yang berdarah-darah

Nampaknya lupa
         bahwa sebelum mengeja kata surga
         kita harus menjadi manusia

Desember, 2017