Ruang Gambar

old workspace

Ruang yang lembab dan sumpek
Dua meter kali satu
Pengap seperti liang kubur
Sebuah jendela menjadi penerang saat siang
Dan perantara imajinasi dan dunia nyata di saat malam
Atau menjadi penyampai berita pada tetangga
Lewat jendela itu mereka melihatku hidup dan bekerja
Sedikit di bawah jendela
Kertas-kertas tertumpuk di samping meja
Saat angin berhembus
Sesekali tersingkap lembarannya
Ada juga puluhan buku-buku tertata rapi di rak
Di lantai satu dua tergeletak diam
Tua dan keriput menunggu dibaca
Padahal baru kemarin
Rasa-rasanya
Lihat
Kuas-kuas tumpang tindih
Di meja yang penuh sisa cat
         sesekali ada juga kecoak beradu lari di atasnya
Selembar kertas kosong siap di tengah meja
Tanpa noda seperti perawan
Telentang
Telanjang
Tapi
Tidak
Saat ini aku kehilangan gairah
         bukan karena posemu kurang menantang
Hanya saja, saat hujan begini
Aku memilih duduk diam-diam
Mendengarkan hujan mengetuk-ngetuk kaca jendela
Sambil menunggu seseorang datang
Berteriak dari balik pintu, bertanya:
         Halooo, apakah anda masih hidup???
         Karena jendela anda buram
         Kami kehilangan tontonan
Belum, tak ada siapa-siapa
Masih suara hujan mengetuk-ngetuk kaca jendela
Aku menunggu


November 2014

Desah

Hanya ketika malam
Kebencianku melata
Dengan hujatku yang tanpa kata
Aku mencacimaki
Bintang-bintang sebagai jalang
Saat aku
Enggan malamku indah
Dan aku
Mulai mengutuki angin
Karena aku
Cemburu mendengar desah


October 2014

Oktober

Sebuah potret kusut tergenggam
Sebuah kilas melintas
Samar serupa bayangan
Coret kasar dari yang teringat
Yang tersisa dari lupa
Dengan mata terbuka kubaca
Cerita yang tertulis buram
Catatan harian tanpa muram
Prosa tanpa judul
Puisi tanpa bait
Doa tanpa airmata
Balada
Elegi
Ode untuk sebuah nama
Tanpa keinginan menyusun lagi kepingan-kepingan
Hanya menilas tapak dan jejak


October 2014

Dua Jam Sebelum Pulang

Kanvas, gulungan kertas dan cat yang lelah menatapku
Bertanya
         Kapan kau akan pulang?
         Kami lelah melukis ketelanjangan
Sabar
Masih dua jam lagi matahari terbit
Lalu aku menuju pulang
Mandi
Melunturkan debu-debu
dan mencuci bau puluhan perempuan di tubuhku
Kembali pada satu
Satu, bisikku
Ah..
Kuhabiskan separuh kopi yang belum sempat terminum
Cangkirnya pun ikut-ikutan bertanya
         Ada berapa banyak
         Bibir perempuan yang pernah menciummu

Hmmm, banyak
Aku bisa menyebutkan nama mereka satu persatu
Bila kau mau
Tapi aku rasa kau tak punya banyak waktu, desisku

Lalu
Pada sebuah foto besar yang tergantung di dinding
Foto perempuan tercantik
Aku berkata,
Kau tak hendak ikut-ikutan bertanya sesuatu, bukan?!
Dari sekian banyak peluk
Kecup cium dan kulum puluhan perempuan
Bukankah senyumku ini satu-satunya yang masih asli milikmu?!
 


Oktober 2014

Kintaki

Saat aku tengah menggambar garis
Yang kau lihat titik dan titik dan titik
Keraguan masih
Ada diantaranya
Keracunan tanya
Tersesat di ribuan saran
Maya
Jejakmu samar kuikuti
Hatimu gamang kucintai

Saugi, Oktober 2014

Es Teh

Kubus es
Dalam teh di gelasku
Dingin tak meleleh
Lidahku beku

Wahai..

Rindu yang kubawa
Tak juga sampai padamu
Tetap saja kau dingin
Seperti es dalam tehku


24092014

Duel

Aku datangi ia
Dengan sebilah pisau di pinggang
Aku tantang
Di sana
Di kuburan tua
Nisan-nisan itu tegak jadi saksinya
Biar,
Biar salah satu binasa
Duel itu
Akan jadi yang terakhir dari kita
Aku melawan
Bayang-bayang

Anjing Yang Mati

Subuhku terluka
Sebelum adzan dan gerimis
Suara melolong
Meminta ampun 
Menjerit ngeri
Seseorang bercerita padaku
Ludahnya menyembur berapi
Seekor anjing dipukuli
Maut terlalu dini mengucap selamat pagi

Subuhku gelisah
Sebelum adzan di sela gerimis
Di pertigaan yang resah
Dua kelok dari arah rumah
Dekat saja
Ada hati yang mati
Mata yang membuta
Telinga yang menuli
Mulut yang membisu

Subuhku berdarah
Diantara adzan saat gerimis
Iblis menari
Puluhan wajah bengis
Tangan-tangan mengayun
Hentakan kaki-kaki
Hyaakk....EEEEII!!
Sekali lagi
Berkali lagi

Subuhku berduka
Setelah adzan dan gerimis
Serapah serempak
Bak puluhan penabuh gendang
Gedebug bakbuk bakbuk!!
Suara lolongan itu tak ada lagi
Sesaat sebelum datang polisi
Seorang pencuri mati
Malaikat maut mengucap selamat pagi

 
05/09/2014


Posted from WordPress for Android