Surat Cinta Buat Puisi

Pangkalpinang, 28 Oktober 2017

Puisi, eh?
Apa sih yang pertama kali terpikir ketika mendengar tentang puisi?

Pertama kali saya kenal “puisi” adalah waktu pembacaan karya penyair-penyair yang saya lupa siapa saja namanya di halaman Balai Pemuda, Surabaya. Itu juga masih kelas enam SD (Okeee..okee..puluhan tahun lalu). Saya tidak ingat puisi siapa saja, apa judulnya, ramai atau tidak acara itu, keren atau tidak acara itu. Yang saya ingat hanya cara mereka membawakan, yang bahkan di usia yang sekecil itu walaupun tidak terlalu memperhatikan ke arah panggung, suara-suara penyair dan rasa yang tersampaikan masih saya ingat sampai sekarang.

Itulah saat pertama saya jatuh cinta pada puisi, dialah pacar saya pertama kali.

Lalu, beberapa kali saya datang pada acara-acara puisi di kampus-kampus saat masih di Surabaya. Setelah dewasa (terus terang saya tidak pernah dewasa, tiba-tiba saja menjadi tua) dan pindah ke Jakarta, pada saat-saat tertentu saya sering mengunjungi TIM untuk mencari tahu, apakah saat itu ada pembacaan puisi di sana, dan tentunya sering terlewat karena datang secara acak. Tapi kecintaan saya tidak berhenti hanya sampai di sana. Saya pun belajar lebih mencintai puisi, dengan menuliskannya. Apakah saya ingin menjadi penyair? Tidak. Penyair itu miskin, jadi saya lebih memilih untuk menjadi pelukis, yang ternyata lebih miskin dari seorang penyair. ๐Ÿ™‚
Lalu saya akan menghibur diri saya dengan kata-kata, uang bukan segalanya. Klise bukan?

Nyadar enggak sih, kalau dari sejak pembukaan saya tadi sebenarnya isinya cuma ngeluh?

Jadi begini nih, intinya, beberapa hari yang lalu, saya menerima undangan dari Bung Ian Sancin, seorang budayawan Bangka Belitung, lebih dikenal dengan karyanya Yin Galema dan Arai, yang isinya mengajak saya untuk hadir dalam acara apresiasi sastra dan baca puisi dalam Peringatan Hari Soempah Pemoeda 1928 – 2017, sekaligus juga acara syukuran Kelompok Pekerja Sastra Pulau Bangka (KPSPB) 1999 – Kelompok Pegiat Sastra Bangka Belitung (KPSBB) 2017. Saya hadir dalam kapasitas sebagai seorang kawan dan pecinta puisi.
Gembira? Tentu.
Bahagia? Yup.
Gelisah? Gak juga, macem mau ketemu kamu saja, cah ayu.
Perasaan saya tumpah ruah karena saya belum pernah melihat penyair-penyair Bangka Belitung membacakan puisi mereka.

Seperti kita tahu, keindahan puisi tidak hanya terkandung pada indahnya susunan rima, pemilihan diksi, tapi juga pada makna yang menggunakan simbol-simbol yang mewakilinya, puisi pun hasil imajinasi kuat dari seorang penyair yang mungkin saja dipengaruhi oleh kondisi sosial, emosi, perenungan, pola hidup.

Seperti pecinta, yang butuh mengeksplorasi dan mengeksploitasi. Para penyair dan pecinta puisi tentu juga melakukan hal tersebut untuk menimbulkan keindahan.

Begitulah, bila kita bicara tentang puisi berarti kita tidak hanya berbicara tentang tulis menulis saja, tetapi juga cara pembacaannya, intonasinya, gesturenya, kontrol diri penyair menghadapi seluruh audience yang ada di depannya. Sehingga makna dan rasa puisi itu bisa sampai, bahkan membuat orang yang menyaksikannya ikut marah, terharu, sedih, menangis.

Rasanya ada yang kurang bila saya tidak menutup tulisan ini dengan harapan, ya kan?
Harapan saya tentu agar makin banyak penulis baru yang produktif melahirkan karya-karya sastra, terutama puisi. Juga makin banyak penerbit yang mau menerbitkan buku-buku puisi, dengan harga terjangkau. Tapi itu semua hanya harapan basa-basi.

Harapan saya sesungguhnya adalah, agar makin banyak orang seperti saya, yang jatuh cinta pada puisi, agar karya para penyair itu banyak pembacanya, agar penyair jadi tidak malas berkarya, hingga saya tidak hanya membaca karya penyair yang itu-itu saja.
 

Salam!

Alf Sukatmo

 
 
Catatan: Saya meminta maaf, karena kecintaan saya pada puisi harus berhadapan dengan keterbatasan batere yang membuat saya tidak bisa merekam semua penyair yang diundang untuk membacakan karya-karya mereka dari awal sampai akhir acara.

Advertisements

4 thoughts on “Surat Cinta Buat Puisi

  1. WOAAH ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘
    This gave me chills…
    and also the feeling of being deeply insecure and inferior ๐Ÿ˜‚

    You are surely blessed with the gifts of both words and visuals. Sometimes I wish I could translate the images in my head into drawings as well ๐Ÿ˜ƒ

Comments are closed.