Buat Selembar Kertas

: dan apa saja yang tercecer di dalamnya

Kubaca
Nanti
Saat diam
Sehingga tak ada lagi yang mati
Setiap kali aku bertanya pada sela pahamu
         “Apakah kau bahagia?”
Karena kau dan aku sama-sama tahu
Bahwa kata-kata bisa seperti peluru
Seketika ia menukar cinta menjadi murka
Dan birahi menjadi benci

Nanti
Kubaca
Saat tenang
Selembar catatan tak bersampul
Kusut karena aku terlalu sering membungkuk
Merunduk-runduk
Bertabik pada manusia-manusia berhati batu
Lalu bertanya kepadamu
         “Sudahkah kau bahagia?”
Sebelum memunguti tetes-tetes air untuk sekedar kupercik ke wajah
Agar aku tahu apakah masih terasa segar mereka
Karena kau dan aku sama-sama tahu
Bahwa wajah kita bisa setebal kulit kayu

Kelak
Kubaca
Saat luang
Selembar catatan tak bersampul
Namun belum nampak apapun tertulis di situ
Bisa saja akan terbaca kata cinta
Atau justru tak terbaca apa-apa
Selembar ia
Yang terselip di antara tulang rusukku
Tepat di tempat dulu ia dipatahkan
Lalu konon diciptakanlah kau darinya
Tapi tenanglah
Aku tak akan bertanya
         “Pernahkah kau bahagia?”

(Pangkalpinang, November 2016)

Advertisements