Parade

I.
Tadi, saat fajar tiba,
tunggulah di sini sementara
Ada yang tak terwakili dengan simbol atau pun aksara dan kata-kata
Sedang aku tak tahu lagi, mana batas antara suka atau duka
Semua itu, karena aku menghitung waktu
Menjejalkannya dalam hitungan dan angka

II.
Aku menghitung waktu

Aku lupa,
makin aku mengira bisa menghitungnya,
semakin terjebak aku dalam ketiadaan

Waktu
ia tidak terikat dan diikat pada keberadaan
Aku hanya menempel, hanyut bersamanya,
di dalamnya
seperti debu
Hanyut pada
Yang
Tak berbentuk
tak terukuran
Yang
Total menguasai
Tak ada awal, tak berujung
Tak tahu kapan dan di mana berakhir
Waktu yang kupakai juga begitu pendek
 
Jarak dan ruang adalah dimensi yang mendadak rapuh diterjang waktu

III.
Pagi berganti rembang petang
Malam menjelang hilang
Masuk aku ke dalam
pengasinganku sendiri
 
Sekat penghalang terpasang
Tak ada cahaya
Tak ada bayang-bayang menjadi perantara
Aku menghitung detak jantungku
pengganti jam, menit, detik
Sibuk menghitung
Sampai semuanya melambat
 
Aku memulai lakonku sendiri
 
Parade tentang perjalanan
penyelesaian cerita yang dulu belum pernah selesai

Advertisements

2 thoughts on “Parade

  1. Malam, Mas. Saya selalu senang dengan tulisan-tulisan Mas dan terima kasih sudah nge-like tulisan-tulisan saya🙏🏼
    Salam, seorang pembaca dan penggemar.

Comments are closed.