Café Dan Cerita Tentang Kesepian

tmp_24935-P_20160327_125110_HDR-012062019237
Dengar,
imajinasiku bertengkar sendiri-sendiri
Sedang aku nanar menatap dinding,
mengeja graffiti, dan mencoba mengerti makna potongan-potongan gambar
Membiarkan secangkir kopi di hadapanku
Yang entah kenapa, hari ini, asapnya enggan menari
Begitu pun, berbatang-batang kretek habis dimakan bara
Sebuah asbak, menganga pongah, ulung seperti pecumbu
Batang-batang itu habis terkulai takluk, tertidur
Terserak dalam lubangnya
 
                  “Write
                  Your own
                  Story”

 
“Bukankah, saat ini sedang kutuliskan kisahku?”
 
Aku datang terlalu pagi, agar aku belajar lagi tentang kesepian
Saat kursi-kursi masih berjajar rapi
dan kosong
Lampu-lampu dimatikan, sinar matahari menembus masuk melalui celah mana saja
Sensasi aneh menikmati permainan cahaya
Saat sepagi itu, dinding, meja dan kursi kayu masih merekam gema keriuhan
Kadang masih terdengar gumam,
suara tawa, langkah-langkah, kursi yang digeser
 
         Suara-suara itu hanya rekaman semalam
 
Aku masih duduk diam
Cangkir kopi kedua datang dengan enggan
Seengan pramusaji yang mengantar dengan sisa kantuk dan senyum yang dipaksakan
Aku membalasnya pula dengan keterpaksaan
 
Kehilangan nuansa, suara-suara itu menghilang
 
         Bahkan bila kita terlampau akrab dengan kesendirian
         Kita tak pernah benar-benar bisa mengenal kesepian

 
Seperti potongan-potongan gambar di dinding
Entah foto siapa saja yang tertempel di sana
Tentunya, mereka pernah singgah di sini
Mungkin pada suatu momen yang mempertemukan mereka dengan tempat ini
Atau karena satu janji,
menunggu, bertemu, lalu berpisah
Bisa jadi ada terucap ikrar suci
Ah, lalu…
Patah hati, pengkhianatan, ketidaksetiaan,
mungkin
 
         Tiap orang punya alasan untuk sendirian
         Tetapi menghindari kekosongan dan kesepian
 
         Lari!

 
Mereka datang ke tempat ini, dengan harapan tentunya
Apapun itu
Mereka akan datang saat petang, 
lampu-lampu menyala,
gelak tawa mengisi sudut paling tersembunyi dalam ruang ini
 
Bagiku
Tempat ini adalah kenangan
Sebuah pertemuan dalam diam, ditemani secangkir kopi, segelas teh
Semangkuk sup, dan seporsi udang
dan dua piring nasi tentunya
 
Sambil mematikan batang kretek terakhir
Aku berdiri, tanpa meminum dua cangkir kopi tadi
Aku hanya rindu aromanya
Bisikku
 
Sebelum pergi, aku menatap lagi tulisan itu
 
                  “Write
                  Your own
                  Story”

 
“Bukankah sudah kutuliskan kisahku?”


Advertisements