Terhenti Pada Koma

         “Siang seperti sekarang ini bukan saat yang tepat untuk menulis puisi”

Berkata perempuan yang menopang dagunya
Pernyataan dalam gumam itu meninggalkan gema
Ia memasang headset
Di hadapannya ada secangkir kopi
Juga asbak yang tengah bermanja dengan sebatang marlboro light
Ia biarkan saja menyala
Hanya awal tadi ia menghisap
Lalu membiarkan saja bara menjalar membakar habis papir dan tembakau

         “Pagi di sini, saat yang tepat untuk menulis puisi”

Kata lelaki itu
Membiarkan matanya menatap matahari yang masih mengantuk
Kopi
Secangkir kopi tidak cukup membakar imajinasi
Sesloki scotch ia rasa cukup bila vodka terasa menusuk
Tangannya menegang
Penanya bicara
Ia merayu kata-kata
Uap hangat ia hembus keras-keras
Terbang ia menggapai orgasme di akhir puisi

         “Terserah saja, aku tak akan membacanya saat ini”

Ia mengambil lagi sebatang rokok
Memainkan filter dengan bibir dan lidahnya
Lalu membiarkan batang itu tergantung begitu saja
Asbak di hadapannya berseru kecewa tertunda ia bermanja
Matahari terlalu berkuasa siang ini
Gumamnya
Perempuan itu kegerahan
Puisi, laki-laki itu dan matahari menjadi dominasi yang tidak ia kehendaki

         “Tak mengapa bila kau tak mau membacanya saat ini”

Lelaki itu tidak tahu penanya sekarat
Ia kehilangan ruh-nya
Barisan kalimat merajam
Pena itu tersedak dalam napas sakaratul maut
Matahari makin mabuk tenggelam dalam langit biru
Biru yang membunuh
Lelaki itu mendesah

Puisinya terhenti pada koma

“Sayaang! Puisiku mati..!”

Advertisements

2 thoughts on “Terhenti Pada Koma

  1. Dia kembali menemukan puisinya. Kata-kata yang khas. Membatasi kosakata tanpa menjadi miskin makna.

    • Nanda, terima kasih
      Dalam kesendirian seniman menemukan eksistensinya
      Dalam kesengsaraan seniman menemukan jiwanya
      Bagiku, tiap karya adalah doa untuk masa depan yang lebih baik

Comments are closed.