Kunang-kunang

Airmataku menjadi kunang-kunang
Bukan tumpah
Naik dan terbang ke sudut-sudut ruangan
Mereka hinggap di mejaku
Di kertasku
Di kanvasku
Di ujung penaku
Di ujung kuasku
Di ujung hidungku
Di sudut mataku
Menghisap hisap kesedihan
Menghisap hisap keluh
Menghisap hisap gerutu
Menghisap hisap ketidakpuasan
Berpendar cahaya
Makin terang
Sehingga aku harus mematikan lampu-lampu yang cemburu
Ditelan cahaya aku
Dibawanya ke alam tak kenal waktu

Puluhan ribu mereka menggiringku
Ke arahmu
Yang berambut hitam ikal pekat sekelam malam
Malu malu terurai

Aku
Berdiri di depanmu saat kau menyeka pelupuk dan pipiku
Tak ada lagi sisa airmata di situ, bisikku

Kau
Dan senyummu
Berkata,
Masih ada
Airmata yang kau simpan di hatimu
Biar kuseka dari sini,
katamu sambil terus memegang pipiku

Dari sela jari tanganmu keluar lagi ribuan kunang-kunang
Mendekap dirimu dan diriku dalam lautan cahaya
Hangat
Kusentuh bibirmu
Seperti dulu
Aku tak tahu lagi apa yang kurasakan
Bukan kesedihan juga kebahagiaan
Mungkin campuran dari keduanya
Bersamamu
Tanpa sekat waktu
Merasa kita dalam perjumpaan abadi
Membuat rambutku kian memutih
Seperti lautan ilalang perak yang pernah kita lihat

Tak ada yang tak berakhir, bisikku

Masih kau dan senyummu
Berbisik juga
Kepergianku bukan akhir buat cinta
Tanpa selamat tinggal
Tak ada yang berakhir
Kelak kau akan bersamaku lagi

Bisikmu
Menjadi gema

Kunang-kunang terbang satu persatu
Membawaku pulang
Keping demi keping
Diutuhkannya lagi terduduk di depan lukisan wajahmu yang tak pernah selesai
Bibirmu masih hangat di jariku
Bisikmu masih bergema di kamarku


23 Oktober 2014

Advertisements

4 thoughts on “Kunang-kunang

Comments are closed.