Perjalanan Terakhir

Matahari sudah memulai tugasnya, sementara kau masih tertidur setelah lelah berjalan dan letih menangis.
Masih tertidur dalam pelukanku. Kemudian kau terbangun dengan rasa kecewa dan bersalah karena kalah berpacu dengan matahari.
Biarlah, kita tidak perlu melihat matahari terbit dari puncak.
Kita masih bisa menikmati keindahan yang lain.

Dengan tubuh yang masih kaku kedinginan, kita melangkah lagi. Kali ini langkahmu lebih ringan setelah semua beban dalam hatimu larut keluar bersama air mata, kemarin.
Kau akan rasakan nanti. Kita seperti sedang berjalan di alam lain.
Indah, memukau dan penuh misteri

Inilah, tanah di balik awan yang sering kuceritakan padamu.
Yang menurutmu aku hanya membuang-buang waktuku harus berlelah-lelah untuk bisa menikmatinya.
Apa pendapatmu setelah melihatnya sendiri?
Bukankah lelah hanya tebusan untuk menikmati keindahan ini?
Inilah mimpiku sejak masih kanak-kanak, negeri dengan rumput-rumput pucat yang membuat lembah-lembah seperti hamparan perak. Mega-mega yang begitu dekat seolah bisa kuraih.

Sebentar lagi kita akan tiba di Sendang Drajat, sumber air yang tak pernah kering walau kemarau. Aku akan turun mengambil airnya.
Mungkin kita tidak akan pernah kembali lagi ke sini, jadi bolehlah kita meminumnya untuk menghilangkan haus, dan anggap saja hadiah dari gunung ini untuk kita.

Lihatlah, Na!
Puncaknya sudah menunggu kita. Setelah melewati Hargo Dalem, kita akan tiba dipertigaan, kalau kita berjalan lurus mengikuti tanda panah itu kita akan segera tiba di Cokro Suryo.
Tapi kita tidak akan ke sana, kita akan berbelok naik ke puncak.
Ke Hargo Dumilah.

Bersiaplah!
Kerikil, pasir dan debu sudah menanti kita.
Kalau kau sudah tak lagi kuat berdiri, merangkaklah!
Merayap!
Berjuanglah untuk naik ke puncak!
Berjuang untuk apa yang kau dan aku cita-citakan.
Kita sudah begitu dekat dengan tujuan. Dan kita sudah sama-sama lelah. Jadi, buang putus asamu!

Saat kau melihat tugu batu, itulah akhir dari perjalananmu. Nikmatilah rasa lelahmu. Peluklah tugu itu, karena tidak ada yang lain di puncak yang sunyi ini.
Temani aku dalam damai.
Nikmatilah.
Nikmatilah, karena ini hanya sesaat.
Nikmatilah karena mungkin ini adalah perjalanan terakhir kita.


“Sepenggal kisah dari Lawu”, tulisanku di buku harianmu yang bersampul hitam.
Tak bertanggal, tak berhari, tanpa bulan dan tahun.

Advertisements

One thought on “Perjalanan Terakhir

Comments are closed.