98

"98" by Alf Sukatmo. Gouache on paper.

“98” by Alf Sukatmo. Gouache on paper. 11/06/2014

Tak mau tenang
Dialektika pikiranku seperti peluru
Riuh
Gaduh
Dan mereka melenyapkanku

19/06/2014

Turbulence mind
Hissing like a bullet
Loud and noisy
And they’ve made me disappear
Advertisements

29 thoughts on “98

  1. Halo Metha. Apa kabar?
    Alhamdulillah saat ini sudah boleh aktifitas ringan.
    Enggak aku kunci kok, Tapi postingan yang lebih dari empatpuluh hari memang gak bisa dikomen. Ada settingnya tapi lupa.. Hehe

    Tentang https://alfsukatmo.wordpress.com/2014/05/15/biru-yang-pecah/ , isinya bukan tentang balas dendam sih. Tp lebih pada tentang ketidakhadiran seseorang yang membekas. Tiap momen, tiap ingatan, tiap kebiasaan itu akan terasa menyakitkan.

  2. Wow, this is interesting. I wonder sometimes if some of my patients feel this way.

    By the way, I bought a 9H pencil today! What I’m going to do with it I don’t know. Any ideas, lol?

    • I can’t answer the first question. Lol
      But 9H pencil? Seriously? Wow that is a hard tip pencil.., but it’s good for drafting.

      • LOL, hard tip? The guy in the store told me its a light pencil. In he craft world, I hear a lot of people talking about H pencils so I wanted to get one. What do you recommend.

        • Well, hard tip pencil usually use for draft drawing for craft design before applying paint or color or cutting. But if you want soft lead to sketch or draw use the B pencil. H is for hard, B is for Soft. The number stand for it’s value. Smaller number is less, the bigger is for more.

    • Oh man, my painting is nothing compared to the terror that i experienced, back to what happen in Indonesia at 1997-1998.

  3. Reblogged this on A Pathway to God and commented:
    Teks ini membawa saya pada dua kelebatan peristiwa 98… Yang pertama, sewaktu demo di IKIP Rawamangun, ketika polisi untuk pertama kali menggunakan peluru (karet). Di tengah kocar-kacirnya mahasiswa saya berhasil masuk ke dalam kampus (dan memang mahasiswa digiring ke sana) dengan intaian peluru yang entah akan mengenai siapa, mungkin juga mengenai saya. Di dalam kampus dekat pagar sendiri saya masih melihat beberapa kawan yang tampaknya hendak menyerang polisi di luar pagar teralis besi. Satu mahasiswa yang tak saya kenal terlihat sangat emosional mengambil batu sebesar genggaman tangan dan berlari hendak melemparkan batu itu ke arah polisi dengan pistol. Secepat yang saya mampu, saya melingkarkan tangan kanan dari belakang badannya dan menarik tubuhnya sekuat tenaga saya; ia lebih gemuk dari saya dan terus berusaha maju mendekat ke pagar sambil berteriak. “Temen gua kena… temen gua kena!” Saya membalas teriakannya, “Temen gue juga kena! Ayo mundur!” (belakangan baru saya tahu bahwa memang ada satu teman saya yang terkena peluru)
    Pada saat menarik badan mahasiswa gemuk itulah mata saya sempat fokus sebentar pada laras pistol di tangan polisi yang sudah mengarah kepada kami berdua. Seandainya saja itu bukan pistol mainan dan ada pelurunya sungguh dan polisi mendapat legitimasi untuk menarik pelatuknya, dan polisi itu sungguh-sungguh terlatih dan menarik pelatuknya… pilihan peluru itu tinggal dua: kepala mahasiswa gemuk ini atau kepala saya.
    Yang kedua di kompleks Atma Jaya, ketika peluru yang dipakai bukan lagi peluru karet, suasana menjadi jauh lebih mengerikan dengan tambahan bom suara yang menggelegar; anything may happen… dan lagi-lagi teman saya juga terkena peluru; dalam hembusan angin beraroma amis darah saya dengar kabar juga beberapa kawan tewas di sana…
    Saya tidak sempat merasa marah, perasaan dominan saya lebih berupa ketidakmengertian mengenai apa yang diributkan orang-orang di luar sana: para wakil rakyat, militer, polisi… Bukan bahwa saya tidak tahu bahwa mereka punya kepentingan politis, melainkan bahwa saya tidak mengerti mengapa orang-orang ini bebal pada kebenaran.
    Memang, yang namanya rezim begitu kuat mencengkeram…
    Maka…sebisa mungkin, pilihlah calon pemimpin yang meskipun dikelilingi oleh orang-orang yang ‘tidak bersih’, sekurang-kurangnya cengkeraman rezim lamanya kurang begitu kuat… Tentu ini bukan kampanye, cuma rambu untuk memilih.

    • Alasan saya saat melukis “98” juga sama. Bahwa sejarah itu pelajaran, agar lembar hitam tidak lagi terulang di Republik ini.
      Surabaya, seperti kota-kota pergerakan lain pun sama mencekamnya. Saya harus berpindah-pindah tempat untuk bisa tidur dengan sedikit aman. Setelah tanggal 15 Mei 98, saya berangkat ke Jakarta untuk memberikan penghormatan kepada rekan2 yang menjadi korban kebrutalan aparat.

      Saya tidak ingin sejarah terulang, dan menyedihkan melihat hati nurani itu kalah oleh kepentingan untuk/agar berkuasa.

      • Terima kasih banyak Mas Alf. Saya yakin Kebenaran punya metodenya yang bahkan membuat orang seperti mas Alf ini mesti berpindah-pindah, bukan karena takut, melainkan karena mesti terus menerus menyuarakan apa yang benar. Salam dan maaf saya tidak minta izin untuk reblog (termasuk lukisan yang saya pakai sebagai featured image).

      • May I ask which country? Unhappily, it is also indicative of what is happening now around the globe. It is such a provocative and necessary image you have created to remind us that we do not all walk in (relative) freedom. It is brilliant but sad and awful.

Comments are closed.